Welcome Myspace Comments
Welcome Myspace Comments

Jumat, 23 Mei 2014

Dia

"Dia!" dalam hati ku berseru. Tapi, siapa namanya ya?
Hanya itu yang ku tahu tentang dirinya apabila kita saling bertemu. Tak ada tegur sapa, tak ada senyuman bahkan sepatah kata yang keluar. Hanya sudut mataku yang melihatnya sekilas, lalu pikiran tentang namanya pun hilang. Semudah itu.

       Hai, namaku Riza kelas 1 SMA. Tak semudah kehidupan anak SMA seperti di tv, namun tak juga se-dramatisir itu. Hanya kehidupan yang membosankan apabila tak ada kegiatan selain belajar, oleh karena itu aku ikut ekskul di sekolahku. Walau ekskul itu cukup membuatku senang, tapi tak jarang aku bolos dari kegiatannya, ya namanya anak SMA. 
       Ohya, dia. Ku temui dia lagi di sekolah, dari perawakannya mungkin teman seangkatan dengan ciri khas wajah yang tak bisa ku mengerti. Lagi-lagi kehidupan percintaan di masa SMA, sesuatu yang sangat sangat mainstream di tv. Ya tetap saja tak bisa ku pungkiri aku pun mengalami, tapi bukan dengan "Dia", melainkan kakak kelasku yang multi talented - pintar, aktif dan tentu saja ganteng haha lagi- lagi sesuatu yang biasa seperti di sinetron. Ah, tapi aku bukanlah tipenya, lalu aku pun berpaling, maklum cinta anak SMA.
       Hari itu cukup terik, namun tak memadamkan keinginanku untuk pergi bermain kerumah teman kelas 11ku, Widi. Saat kami sedang berjalan ke tempat parkiran motor.. ah! "Dia" lagi. Namun hei, Widi menyapanya seakan teman lama...oh sekarang aku pun tahu namanya, Fadil. Oh, aku pun tahu namanya dan lalu terlupakan kembali.

       Kenakalan, kemalasan, pertemanan, percekcokan dan cinta pun terjadi selama masa SMA-ku ini. Tak habis pikir sekarang waktuku untuk menempuh jenjang yang lebih tinggi dan akan segera meninggalkan sekolah yang penuh kenangan ini. Ku lewati lorong demi lorong, kelas demi kelas dan keadaan saat itu benar-benar membuatku nostalgila-nostalgia gila, sesuatu yang membuatmu benar-benar merasa ingin kembali ke masa itu.
       Aku pun berpaling ke lapangan dan hei, itu "Dia" yang bernama Fadil-tanpa nama panjang, karena hanya itu yang ku tahu, sedang bermain berjalan menyusuri lapangan sambil seperti mencari seseorang. Aku bukan tak suka padanya, namun tak bisa juga ku sebut suka karena perasaan yang timbul dan hilang begitu saja, semudah itu. Aku pun tersenyum dan mengingat betapa sulitnya tahu nama orang itu-karena aku pun tak penasaran untuk mencari tahu, lalu aku pun pergi dari tempat itu.

       Saat perpisahan pun tiba, kami bersama menuju suatu tempat untuk merayakan kelulusan-atau merayakan kesedihan karena akan berpisah. Suatu tempat sunyi yang indah pada malam hari karena udara yang menyegarkan dan tukang bakso dimana-mana haha. Kembali aku melihat wajah itu lagi, Fadil yang berjalan menuju teman-temannya. Gaya berjalan yang sedikit angkuh, tapi tegas cocok dengan wajah yang juga tegas,  misterius, seperti anak nakal tapi pendiam, ah aku tidak tahu. Hanya kemungkinan-kemungkinan seperti itu yang ku tahu. Hei, kenapa baru sekarang aku memikirkannya ? Tak usah membuat perpisahan ini semakin menyedihkan, ucapku dalam hati.
       Matahari baru terbit saat aku pergi menghirup udara segar di luar hotel bersama temanku, Mela. Ternyata tak sedikit yang sudah menghirup udara segar terlebih dahulu daripadaku, termasuk Fadil yang berada tepat didepanku. Sedang mengobrol ria bersama teman-temannya. Aku pun kaget saat temanku berkata bahwa aku sedang memerhatikan Fadil. Ah masa iya? Aku pun menyanggahnya dengan bercanda bahwa ada banyak orang bernama Fadil di sekolah dan yang mana yang temanku maksud. Dia pun menunjuk "Fadil" yang berada di depanku dan berkata bahwa Hamad Fadil yang berada didepanku yang sembari tadi kuperhatikan. Ah, baru kudapat nama panjangnya- Hamad Fadil. Aku pun tersenyum sambil menikmati segarnya udara pagi. END

The little girl is